Berbagi Pengalaman Hidup

Senin, 25 Mei 2009

PERANG BATU ......NIH YE


PERANG BATU.......NIH YE

Dalam penyelesaian suatu masalah tertentu di negeri ini ada sebahagian masyarakat cenderung kurang percaya dengan diri sendiri ( gak pede ), dia ngajak orang lain/ bila perlu massa sebanyak-banyaknya, mungkin bertujuan agar pihak lawannya merasa takut dan bisa merubah pendiriannya.
Selain itu, orang bicara atau mengutarakan pendapat sudah lazim tanpa mengindahkan norma-norma etika, normat adat dan norma kesopanan, hal mana secara sadar atau tidak kita telah membiarkan kebiasaan buruk itu terjadi, akhirnya terus berkembang menjadi tindakan kekerasan fisik malah dengan merusak benda-benda dan apa saja yang ada di dekatnya tak ayal lagi akan menjadi sasaran anarkis massa.
Celakanya fenomena santun yang berubah menjadi kasar dan anarkis semakin merjalela dimana-mana dan dianggap biasa saja.
Ini suatu kerugian yang luar biasa bagi bangsa ini, karena perubahan perilaku seperti itu tidak akan bisa dilakukan perubahan menuju kepada kondisi semula dalam tempo sekejap.
Padahal sejak lama bangsa Indonesia itu dikenal sebagai bangsa yang berbudaya tinggi, ramah tamah, sopan santun serta menjunjung tinggi norma adat dan agama.
Perubahan pola perilaku sebagaimana diutarakan di atas, sekarang ini telah berkembang lebih jauh lagi, dan kita bisa menontonnya di teve yang hampir tiap hari dihidangkan suguhan macam-macam kekerasan serta saling serang satu sama lain.
Mereka menggunakan alat seadanya misalnya batu yang mudah diperoleh dimana-mana, namun mereka selalu kurang puas dengan batu, maka mereka melengkapi pula dengan berbagai senjata tajam seperti : Golok, bambu runcing, pentungan, ketepel, senapan angin dan panah sehingga suasananya mirip seperti permainan perang-perangan zaman kita masih anak-anak, tetapi bedanya yang dilempar anak-anak itu adalah tanah lempung yang tidak akan berakibat bercucuran darah segala.
Pada suatu hari si Dadap dan si Waru kebetulan ikut nonton teve di rumahku, mereka kelihatan agak bermuram durja melihat adegan demi adegan saling serang malahan batu-batu dan lainnya ada yang salah sasaran mengenai polisi yang bertugas untuk melerai dan mengingatkan mereka bahwa perbuatan onar tersebut melanggar hukum.
Kalau nonton film “true story “ tentang perang jaman dahulu, aku sangat suka misalnya film M. Toha Pahlawan dari Bandung Selatan ……itu film favoritku kata si Dadap nyeletuk.
Wah rame juga nonton pertunjukkan adu kekuatan dan mengamati para pelaku ternyata sangat bersemangat saling lempar dan menghantamkan alat-alat tadi kepada lawannya yang masih teman, dan saudaranya sendiri sebangsa, dan setanah air.
Demikianlah potret buram “bangsa yang sedang belajar demokrasi” kata pengamat politik, bukan kata saya lho kata si Waru menimpali.
Si Dadap dengan semangat nanya, maksud loh? La iyalah masa la iya dong jawab si Waru, haree genee masih belajar demokrasi barat yang sudah usang, di negeri pencipta demokrasi bebas seperti itu sudah enggak dipake koq!
Coba kamu renungkan, sebahagian teman, sahabat dan sekaligus saudara kita itu ternyata sedang main film “lorong waktu” set back ke masa silam mungkin sebelum terjadi perang dunia kesatu atau malah bisa jadi balik lagi ke zaman dahulu ( jaman dulu banget) ada perang batu segala….tetapi aneh bin ajaib itu terjadi sekarang pada zaman modern.
Menyedihkan memang, sekaligus memprihatinkan ……. padahal kita mengaku sebagai bangsa yang besar dan berbudaya tinggi namun….. ternyata tidak mau lagi menjunjung tinggi demokrasi berdasarkan falsafah bangsanya sendiri yang dalam pelaksanaannya berkepribadian khas Indonesia yang dilandasi ajaran agama, jadi “just Indonesian character and philosophy is not the same with other countries” hiks hiks (si Waru keselek) tidak bisa melanjutkan omongannya, cape deeeh katanya. Cag.

Minggu, 24 Mei 2009

TIADA HARI TANPA DEMONSTRASI DAN TAWURAN............BOSAN !!!



KOMUNIKASI KELUARGA DAN NEGARA



Obrolan dengan si Pulan berakhir karena waktu telah larut malam, ia menutup pembicaraan dengan mengajukan teka teki (seperti quiz saja) : Hal-hal apa saja yang menyebabkan kondisi individu dan kelompok masyarakat di negeri ini banyak yang menjadi cepat marah, mengamuk, bicara juga kasar ( mungkin norma kesopanan dianggap kurang penting) dan ego yang tinggi, serta bentrokan fisik antar warga dan perlawanan terhadap aparat kerap kali terjadi dimana-mana?
Pertanyaan yang jujur apa adanya dari seorang awam seperti si Pulan menyebabkan saya agak kaget karena tidak menyangka pertanyaan itu demikian mendalam, dan saya teringat suatu tulisan di harian Pikiran Rakyat (Sabtu, 23 Mei 2009) penulisnya yaitu Mona Sylviana, anggota keluarga dan aktif di Institut Nalar Jatinangor tentang “Keluarga, Komunikasi, dan Demokrasi” yang antara lain memuat pendapat Bertrand Russel yang berkata: Individu yang baik pasti warga Negara yang baik.
Dalam tulisan tersebut beliau mengemukakan antara lain tentang idealisasi keluarga Indonesia versi Orba, diterima sebagai satu-satunya model keluarga yang juga berarti tuntutan bagaimana jadi warga Negara yang baik
Selanjutnya Mona berpendapat “idealisasi keluarga yang demikian menyebabkan komunikasi yang terjadi cenderung manipulatif, instruksional, dan distortif. Komunikasi tidak ditempatkan sebagai ruang untuk saling menghadirkan diri, yang menjadikan para anggota keluarga lebih bisa saling memahami lebih dekat, dan ikatannya kian kuat.
Komunikasi demikian jauh dari jenis yang mengandaikan adanya pribadi-pribadi masing-masing hidupnya khas, kompleks dan bermartabat.
……….perlu dilahirkan kembali potensi-potensi individu yang idealnya berkembang dalam proses komunikasi, setara, dan terbuka jangan dikerdilkan seperti zaman orba. Potensi yang berbanding lurus dengan kesadaran akan kedalaman dan keluasan itu, yang karenanya akan menyediakan ruang bagi perkembangan potensi-potensi dari individu lain Tentu, termasuk potensialitas sebagai warga Negara”.
Pendapat di atas menurut saya tidak sepenuhnya benar, karena tidak tepat kalau idealitas keluarga Indonesia dibandingkan dengan artian keluarga, komunikasi dan demokrasi zaman Orba.
Mengapa? Karena kehidupan berkeluarga bangsa Indonesia tidak sama dengan Negara manapun, saya berani mengatakan idealitas bangsa ini adalah “keluarga yang khas Indonesia” jadi tidak perlu disandingkan atau diperbandingkan dengan konsep keluarga bangsa lain atau malah kurang tepat dianalogikan keluarga dengan komunikasi, demokrasi penyelenggaraan sistem pemerintahan Negara.

Mona Sylviana juga mengatakan: ……. .. “pola komunikasi begitu mengekalkan hubungan keluarga-negara, yang hanya menjadikan keluarga sebagai unit terkecil masyarakat yang feodal, patriarki, dan konsumtif. Dan darinya, seperti dikemukakan S.Sasaki Shiraishi (2006), tidak mengherankan kalau lahir pribadi-pribadi yang lebih menekankan “harmoni” (yang sebenarnya perwujudan “asal bapak senang”), “komunalitas” bermuatan gotong royong (satu eufimisme permakluman untuk nepotisme), dan “tidak sensitif”. Padahal, Negara sekarang ini tidak mungkin menjadi the idea of good yang dapat menyimpul seluruh kompleksitas masyarakat. Negara “hanya” mungkin berperan sebagai fasilitator bagi daulat rakyat (Habermas melalui F.Budihardiman)………”

Menurut pendapat saya di zaman Orla, Orba, dan Reformasi sekarang atau dengan nama zaman apapun dihari yang akan datang, bahwa keluarga ideal bangsa ini adalah pola komunikasi keluarga Indonesia “yang khas berkepribadian Indonesia”, kita rasakan kenyataan pola komunikasi tidak selalu seragam dalam berpendapat dan tidak ada pengekangan potensi anggota keluarga untuk maju. Komunikasi keluarga Indonesia malah selalu terbuka menyatakan pendapat yang berbeda baik soal kehidupan keluarga maupun dalam bermasyarakat/sosialitas dan bernegara, yang penting disampaikan secara bijak dan bahasa yang santun ( Sunda=malapah gedang)
Selain itu tidak tepat kalau dikatakan pola komunikasi dalam idealisasi keluarga Indonesia di zaman Orba menyebabkan lahirnya keluarga “feodal”, dan “patriarki” karena dalam keluarga Indonesia, setiap anggota keluarga wajib menghormati orang tuanya, demikian pula sesama anggota keluarga harus saling menghargai satu sama lain.
Pada prinsipnya semua anggota keluarga mempunyai hak dan kewajiban yang sama, namun kemudian adanya hak dan kewajiban yang berbeda antara anggota keluarga laki-laki dan perempuan, maka itu adalah acceptly (kekecualian ) sebab dalam hal-hal tertentu misalnya hak warisan jelas tidak akan sama, hal itu sesuai dengan ajaran norma agama , adat, etika, kesopanan, dan norma lainnya yang berlaku dalam keluarga masing-masing.
Demikian pula persoalan konsumtif, saya kira banyak tergantung bagaimana didikan dalam keluarga itu sendiri, dan pola hidup konsumtif itu tentu saja selain faktor internal tadi maka yang sangat berpengaruh adalah faktor eksternal/ lingkungan pergaulan hidupnya termasuk dari gencarnya iklan-iklan di media massa cetak apalagi televisi. Jadi bukan karena idealisme keluarga pada zaman orde baru, sebab di zaman apa pun setiap orang mesti berusaha menjadi orang baik termasuk menjadi warga negara yang baik.
Jadi pola komunikasi dalam keluarga Indonesia dari dulu sampai sekarang idealnya jangan berubah; tetap saja dan harus/mestinya melahirkan ikatan yang lebih kuat serta bersatu bukan diartikan tidak boleh berlainan pendapat, dan malahan diberikan kesempatan yang sama dan luas untuk maju dan berkembang menjadi individu-individu yang mencintai dan mengabdi pada bangsa dan negaranya.

Minggu, 10 Mei 2009

caleg mendadak stres





Tidak sengaja ketika pilih-pilih channel/saluran televisi, Mas Tukul Arwana tiba-tiba muncul di layar kaca sedang mewawancarai Ibu pimpinan salah satu Rumah Sakit (RS) Jiwa.

Mas Tukul bertanya tentang caleg-caleg yang stress itu apakah benar ada dan kira-kira ada berapa orang yang pernah dirawat? Dokter pimpinan RS tersebut menyatakan bahwa dari data yang ada begitu selesai pemilu pada tahun 2004, cukup banyak tokoh partai, calon kepala daerah serta calon anggota legislatif (caleg) yang dirawat di RS yang ia pimpin.

Nah lho! Pantes saja, kita sekarang baru mengerti mengapa berbagai RS tersebut jauh hari sebelum hari H pencontrengan mereka telah menyiapkan ruangan-ruangan VVIP (Very Very Important Persons). Katanya lagi bahwa beliau-beliau / calon-calon pemimpin itu telah mengalami depresi, ada yang tingkat stress ringan, sedang dan sampai berat. Demikian pula menjelang PEMILU tahun 2009, RS Jiwa kembali melakukan langkah antisipasi dengan menyiapkan ruangan-ruangan khusus/VVIP untuk perawatan.

Untuk itu kita acungkan jempol kepada pihak RS-RS yang proaktif bertindak cepat dan tepat, dilain pihak jajaran RS diharapkan dapat melayani rakyat biasa dengan sebaik-baiknya. Peristiwa yang melibatkan para elit politik memang menarik dan selalu menjadi sasaran empuk pencari berita, mereka segera memuat berita tersebut di media cetak, dan elektronik seperti radio dan televisi termasuk tersebar luas di internet dengan diberi judul yang serem-serem, mungkin nyaris tanpa sensor atau sengaja dibebaskan saja oleh lembaga pengawas terkait, karena takut dituduh melanggar kebebasan pers dan hak azasi manusia.

Jumat, 08 Mei 2009

Landasan Idiil dan Konstitusional





Falsafah bangsa yang telah dirumuskan oleh para pendiri bangsa yaitu Pancasila pun tidak dipedulikan lagi, seseorang kalau ingin menyebutnya saja seolah-olah lidah itu kelu, padahal sepengetahuan kita dasar Negara belum dicabut masih tetap landasan idiil Pancasila dan landasan konstitusional UUD 1945.

Sebaiknya setiap permasalahan kita selesaikan dengan cara bermusyawarah dengan baik, bukan dengan “cara main hakim sendiri”. Demikian pula cara-cara mendatangi beramai-ramai/mengerahkan massa dengan membabi buta merusak apa saja yang ada dihadapannya harus segera diminimalisir atau distop serta para pelakunya harus ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku.

Di media cetak dan elektronik khususnya televisi, bukan hal yang aneh melihat massa yang beringas merusak tempat-tempat tertentu yang bermasalah, apakah itu pabrik, rumah pribadi, kantor instansi pemerintah, Dewan Perwakilan Rakyat, kampus perguruan tinggi, malahan tempat ibadah pun dibuat porak poranda, termasuk kantor-kantor penegak hukum seperti gedung pengadilan, kantor kepolisian, kejaksaan dan lain-lain.

Katanya Negara ini Negara hukum yang artinya menjunjung tinggi supermasi hukum. Tetapi kondisi yang terjadi di tengah masyarakat sangat bertolak belakang dengan sebutan Negara hukum. Padahal krisis ekonomi belum lagi berakhir, aksi–aksi peruksakan itu terus berlangsung sampai detik ini.

Mereka semua pada “lupa” bahwa perilaku tersebut pasti berdampak negatif terhadap kehidupan sosial dan kegiatan perekonomian bangsa. Manusia kata para akhli mempunyai ingin meniru orang lain, terbukti pola perilaku anarkis ditiru di berbagai daerah, sehingga para pengusaha enggan berinvestasi, pabrik-pabrik menutup usahanya, ribuan karyawan jadi tidak punya kerja alias nganggur. Pengerahan massa yang beringas dan anarkis juga membuat kondisi tidak kondusif,masyarakat selalu was was manakala para demonstran bertindak kekerasan/rusuh.

Ada apa dengan bangsa ini? Menurut si Pulan sahabat karib saya, ia berpendapat kekisruhan dan kecauan seperti diuraikan penulis di atas adalah karena para pemuka negeri, elit politik, tokoh masyarakat, dan publik figur lainnya tidak memberi contoh suri tauladan yang baik kepada rakyat. Jadi jangan salahkan dulu rakyat yang dipimpinnya sebab ada pepatah yang mengatakan “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”.

Selain sebab musabab tadi menurut si Pulan boleh jadi pula karena pendidikan dan pembinaan agama bagi insan Indonesia kurang optimal, lanjut si Pulan bersemangat. Mesti diakui itu memang benar adanya, karena mulai tingkat dasar sampai dengan perguruan tinggi, materi dan jam pelajaran agama mesti diakui sangatlah minim. Belum lagi bagaimana pendidikan dari orang tuanya, dan pengaruh lingkungan pergaulannya dalam masyarakat tentu sangat punya andil mempengaruhi kualitas/integritas seseorang.

Obrolan dengan si Pulan berakhir karena waktu telah larut malam, dia menutup pembicaraan dengan mengajukan teka teki (seperti quiz saja) mengapa mereka/kaum inohong bisa terlibat pelanggaran hukum sehingga menurunkan kredibilitas dan integritas diri sendiri dan membuat malu keluarganya, dan bangsanya?

Sambil mengantar dia sampai pintu depan rumah, saya jawab singkat:
Banyak sekali penyebabnya, bisa dari akibat dasar agamanya yang kurang, pengaruh lingkungan hidupnya yang serba konsumtif, materialistis, adanya penyalahgunaan wewenang jabatan/kekuasaan dan lain-lain sehingga mereka khilaf melakukan perbuatan yang melanggar norma-norma adat dan hukum baik secara sendiri maupun secara bersama-sama seperti korupsi, kolusi, terlibat pengedaran narkoba, penganiayaan, penggelapan, penculikan dan malah ada yang jadi dalang pembunuhan segala!
Memang kalau sudah begini kondisinya, maka sulit bagaimana rakyat mau percaya lagi terhadap figur publik yang demikian itu.

Akhirnya yang dipimpin atau rakyat awam kehilangan arah karena panutannya terlibat kasus hukum yang sangat memalukan, mereka bingung kudu bagaimana dan kepada siapa lagi yang mesti diteladani, serta mendapat pengayoman dan perlindungan.

Senin, 04 Mei 2009

Apa Kabar Elit Politik



SUGUHAN POLITIK TIAP HARI
Oleh: Iman Arif

Media cetak seperti koran, majalah, tabloid dan lain-lain kalau kita perhatikan setiap hari memuat berita tentang situasi politik di negara tercinta ini, demikian pula internet dan televisi dengan gencar serta semangat selalu menghidangkan hingar bingarnya perpolitikan tersebut.

Mungkin para pengelola media di negeri ini ingin menyesuaikan selera pasar saat ini yang katanya orang sedang gandrung hidangan lezat yang disebut politik tersebut. Berbagai lapisan masyarakat pasti minatnya berbeda, selain banyak yang senang berita politik, tetapi ada pula yang gemar membaca atau nonton tayangan televisi tentang kesehatan, humor, wisata, ceramah agama, olah-raga , diskusi ilmiah, musik, kuliner, infotainment, hukum, film dan lain-lain.

Sedangkan film yang disebut terakhir itu sendiri banyak jenisnya, misalnya: action (laga) drama percintaan, humor, fiksi, perjuangan/perang, dan film religi/ yang penuh dengan syiar agama dan banyak lagi. Penggemar sinetron atau film tentang hantu pun mungkin banyak, biasanya beberapa stasiun televisi menayangkan malam jumat dan sabtu, tetapi ada pula yang ditayangkan siang hari…….. (Para pendidik dan pemuka agama sepakat film/sinetron seperti itu membodohi publik, tidak mendidik dan tidak sinkron dengan pembinaan keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Pencipta).

Memang benar kalau dikatakan penayangan acara di media massa itu telah beragam/ sangat bervariasi, namun kalau diperhatikan secara detail, maka berita politik itu selalu mempunyai kualitas tayang menggreget, jam tayang bisa panjang atau bisa pendek durasinya, dan bisa diulang kapan saja, misalnya (pagi, siang atau malam hari).

Dia mampu menyita waktu dan mengalihkan perhatian publik apalagi manakala berita itu menyangkut keputusan atau kebijakan politik tingkat nasional atau berkaitan khusus pribadi-pribadi elit politik yang tersandung kasus hukum. Jadi bedanya berita politik dengan tayangan lain adalah dalam hal bobot dan kualitas berabagai keputusan politik yang menyangkut hidup orang banyak, dan keterlibatan para elite politik dalam kasus hukum.

Effek atau dampak dari tayangan berita-berita khususnya televisi mampu menggerakkan pemirsa cerdas spiritual, berfikir rasional atau tidak rasional, atau bisa bertindak emosional atau tidak emosional. Mengapa? Karena beritanya lengkap selain terdapat unsur tulisan/text/gambar juga audio visual, apalagi tayangannya bagus, dan disiarkan pengelola televisi berulang-ulang baik itu dalam berita utama ataupun dalam format acara yang berbeda dengan materi pokok sama .

Sisi negatifnya, penayangan berita anarkis dapat menyulut seseorang atau massa meniru melakukan perbuatan-perbuatan yang sama seperti yang mereka tonton di layar kaca tersebut. Tidak heran kalau besok lusanya di tempat lain terjadi anarkis yang serupa, malah lebih dahsyat tindakan anarkisnya.

Karena itu pengelola media massa mestinya jangan menyajikan berita kekerasan seperti itu secara vulgar karena bisa ditiru oleh massa di daerah lainnya, misalnya peristiwa bentrokan massa pendemo dengan aparat yang berdarah-darah, penyiksaan mahasiswa yunior terhadap seniornya di salah satu kampus perguruan tinggi, ditiru di berbagai kampus lainnya, yang lebih memprihatinkan kasus serupa terjadi pula di tingkat sekolah menengah pertama (SMP ).

Solusinya: Penayangan berita yang tendensius demikian hendaknya bisa diarahkan agar waktu dan lama tayang proposional tidak berlebihan dan bobot negatifnya perlu diimbangi dengan kegiatan-kegiatan positifnya dalam satu paket tayangan. Sekarang ini materi siaran televisi telah sampai dengat tingkat cukup mengkhawatirkan bagi para orang tua, pendidik, pemuka agama dan mereka yang peduli terhadap nasib generasi muda penerus bangsa.

Kita sangat sulit mencegah putra/i kita menonton tayangan yang negatif tersebut, karena keberadaan televisi telah demikian luas di tengah masyarakat, mereka dapat bebas nonton di kamarnya, lokasi Tv umum, bengkel mobil/motor, tempat kost, terminal setasiun kereta api/bis, dan bandara, hotel, restoran, apotek, rumah sakit, kios pedagang kaki lima dan banyak tempat lainnya. Selain tayangan sinetron dan film yang tidak mendidik, seperti takhayul, kekerasan dan hal-hal sadistis, ironisnya siaran berita utama dan reportase khusus format acara lainnya terlalu sering menayangkan bentrokan/kerusuhan para pemimpin masyarakat, politisi, tentara dengan polisi, pendemo dengan polisi, pedagang kaki lima dengan Satpol PP , saling benturan fisik warga dengan tim eksekusi dari lembaga peradilan, dan lain sebagainya.

Kondisi pertelevisian yang demikian itu juga tentu membuat gusar si Pulan, Si Dadap dan si Waru, mengatakan film-film yang diputar di bioskop saja dilakukan sensor, tetapi kenapa materi dan sistem penayangan yang meresahkan itu dibiarkan terus berlangsung. Selanjutnya Si Dadap dan kawan-kawannya berharap sangat agar seluruh pengelola media massa baik cetak maupun elektronik dapat menahan diri agar tidak terlalu “bebas dan vulgar” dalam menyiarkan acara-acara tertentu.

Perhatikan waktu tayang yang tepat misalnya waktu telah tidur anak-anak dan hindari pada waktu belajar. Jadi sebaiknya jangan ingin memperoleh keuntungan besar dari iklan/sponsor saja, melainkan sekarang ini diperlukan proses editing tayangan dengan kepekaan fikiran serta hati nurani, sehingga dihasilkan suguhan acara banyak dampak manfaat positifnya tetapi dampak sisi negatifnya sangat kecil.

Kita yakin dengan partisipasi aktif seluruh pengelola media massa sebagaimana diuraikan di atas, maka berbagai perubahan perilaku negatif dari sebagian masyarakat yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa dapat diminimalisir dengan sebaik-baiknya. Entah mengapa lembaga sensor, pemerhati siaran dan pihak-pihak yang terkait pengawasan siaran kurang berfungsi dengan baik, karena sebenarnya tugas mereka adalah mengontrol agar berita-berita yang ditayangkan proposional dan tidak berlebihan. Kalau diibaratkan sebagai makanan, bukan saja lezat yang menjadi keharusan tetapi berita harus juga menyehatkan.Ya itulah yang paling penting

Rakyat miskin yang berjumlah puluhan juta orang itu masih memikirkan makan apa untuk hari ini dan bagaimana cari nafkah untuk bisa makan besok. Media massa dapat menjadi pelopor mengingatkan seluruh pemuka negeri ini termasuk elit politik agar dalam berjuang mesti “ kembali kepada rel yang lurus “ sesuai dengan komitmen atau yang kita kenal dengan “perjanjian luhur“ seluruh bangsa Indonesia

Marilah sejak saat ini kita saling mengingatkan agar bangsa di negeri ini hendaknya dapat menahan diri dari perilaku-perilaku yang bertentangan dengan falsafah bangsa sebagai berikut :

1) benturan dan bentrokan antar umat beragama dan aliran agama,
2) perkelahian massal/tawuran,
3) Tindakan anarkis merusak sarana dan prasarana umum (dibangun menggunakan dana rakyat tetapi dihancurkan oleh rakyat sendiri?),
4) berlomba usul pemekaran wilayah Propinsi/Kabupaten dan Kota tanpa didasarkan pedoman dan kriteria yang jelas dan terukur serta komprehensif dan berakibat masyarakat di daerah tersebut saling berantem berkepanjangan,
5) demonstrasi yang menutup jalan umum (jalan toll dan jalan raya/primer) dan banyak lagi jenis-jenis demo lainnya yang mengganggu keamanan dan ketertiban umum,
6) barantem rakyat vs aparat diberbagai kasus demonstrasi (bahasa halus =unjuk rasa),
7) mogok makan (padahal ajaran agama melarang mogok makan),
8) mogok kerja yang menelantarkan masyarakat,
9) mengganggu dan mempengaruhi jalannya sidang dalam proses peradilan,
10) benturan dan bentrok fisik massa dalam kasus-kasus eksekusi tanah/bangunan yang telah mendapat keputusan hukum tetap,
11) perang (saling serang dengan senjata) antar kampung, desa, kecamatan
12) dan lain sebagainya tidak mampu disebutkan satu-satu karena terlalu banyak.

Pelaksanaan demokratisasi jangan dikhianati oleh perilaku-perilaku seperti diutarakan di atas karena itu tidak memberdayakan masyarakat (social empowerment) untuk memperbaiki kualitas hidupnya malahan yang terjadi sebaliknya pengrusakkan/anarkis terjadi dimana-dimana. Hal penting lainnya adalah bahwa segala perbuatan yang mengatas namakan demokratis seharusnya dapat dipertanggung jawabkan (akuntabel) di dunia serta dihadapan Tuhan.

Kesimpulan:

a. Manusia Indonesia wajib beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan beribadah sesuai dengan ajaran agama,
b. Saling menghargai satu sama lain serta berlaku adil (sesuai dengan hak-hak azasi manusia),
c. Memegang teguh rasa persatuan dan kesatuan dalam bingkai Negara kesatuan Republik Indonesia
d. Menjadikan budaya musyawarah yang baik sebagai alat untuk mencapai solusi terbaik. Artinya bermusyawarah dengan mengedepankan akal sehat, bukan emosional. Kemudian usahakan seminimal mungkin mengerahkan masa, tapi semaksimal mungkin gunakan sistem perwakilan.
e. Seluruh komponen bangsa terutama para elit yang memiliki wewenang agar menjadikan kepentingan rakyat sebagai fokus utama demi tercapainya kesejahteraan yang adil dan merata.

Sudah saatnya kita harus kembali bekerja membangun bangsa dengan satu arah cara pandang, kerangka pemikiran serta landasan negara yang telah disepakati bersama yaitu Pancasila dan UUD 1945. Artinya jangan coba-coba berksperimen lagi apalagi meniru-niru menyusun konstitusi serta dasar falsafah bangsa import dari Negara lain.

Manakala komitmen bangsa tersebut tidak dilaksanakan dengan baik dan benar, maka Akan terjadilah perubahan sosial yang dapat berakibat negatif karena merusak sendi-sendi kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang telah terbina puluhan bahkan ratusan tahun sejak kita menyatu sebagai bangsa Indonesia. Berbagai dampak negatif dimaksud sangat berbahaya karena proses pemulihan akan berdampak kerugian yang  luas dalam kehidupan  berbangsa dan bernegara,  siapa pun sulit memprediksi tingkat kerugian dari bencana sosial  yang akan ditimbulkannya.

Banyak sekali kejadian-kejadian luar biasa yang telah merusak budaya bangsa, mari kita ambil salah satu contoh akibat salah mengartikan kata-kata reformasi dan demokrasi, maka dimana-mana orang melakukan ucapan dan tindakan dengan “sebebas-bebasnya“ tanpa memperdulikan norma-norma kehidupan yang ada di dalam masyarakat.

Tidak cukup dengan kebebasan yang bernaung dalam nuansa demokratisasi saja, sekelompok elite politik bersemangat merubah  produk–produk peraturan perundangan di bidang politik, sosial, ekonomi, agama, hankam , serta tata laksana pembangunan dan pemerintahan yang berbau orde baru mesti dirubah tidak peduli apakah itu masih relevan atau baik.
Maka DPR bersama pemerintah berhasil menetapkan berbagai peraturan baru, dan itu memang benar semestinya demikian karena kalau ingin maju tentu diperlukan berbagai pembaharuan peraturan/hukum sebagai payung kehidupan bermasyarakat dan bernegara, namun tidak perlu ditarget dan dilakukan tergesa-gesa yang berakibat bongkar pasang peraturan perundangan .

Selain terlalu bersemangat dan tergesa-gesa,  ditambah hampir selalu ada konflik kepentingan, maka beberapa aturan terpaksa dibongkar pasang, kita ambil contoh: UU Nomor 5 tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah (yang telah usang) sampai diganti dua kali, hanya dalam satu dua tahun saja, aneh memang padahal tim perumusnya terdiri dari pakar dan akhli di bidangnya.

Hal tersebut membuktikan kalau politik dijadikan raja, maka produknya sering  berakibat tidak efektif dan efisien, malah sebaliknya terjadilah benturan-benturan kekuasaan antara pemerintah pusat dengan daerah, lalu kemudian eksekutif dengan legislatif  berlomba saling mengaku punya kewenangan yang lebih tinggi.
Akibatnya kondisi di daerah terjadi arogansi Pemerintah Kabupaten/Kota, mereka kurang menghargai Gubernur selaku wakil pemerintah pusat di Daerah,  demikian halnya DPRD Propinsi dengan Kabupaten/Kota terjadi hubungan yang semu tidak harmonis karena anggaran pemerintah Pusat lebih besar diturunkan kepada Daerah langsung dan anggaran Propinsi  tidak sebesar sewaktu masih berlaku UU No.5 tahun 1974.
Menyadari kesalahannya, maka DPR pada waktu itu segera mengganti UU  yang kacau tadi dengan menetapkan UU Pemerintah Daerah yang  pada intinya antara lain memfungsikan kembali Gubernur selain sebagai perangkat Daerah, dia juga sebagai wakil pemerintah pusat di Daerah.

Perkembangan demokrasi yang keblablasan terutama di tingkat pusat secara cepat akan berkembang pula ke tingkat bawah atau Daerah dan warga masyarakat di tingkat paling bawah /grass root (akar rumput), kemudian kita saksikan bila sudah terjadi pertentangan dan gejala perpecahan  maka dipastikan penyelesaiannya melalui dialog jarang berhasil, karena mereka saling mengedepankan ego, serta massa yang bebas berpendapat dalam menyampaikan kehendaknya, pendapat dirinyalah yang paling benar. Tidak ada lagi saling toleransi dan menghargai pendapat orang lain, sehingga terjadi bentrokan fisik dengan aparat keamanan dan baku hantam diantara mereka sendiri yang sulit dikendalikan.

Sifat massa lebih banyak emosional ketimbang berfikir logis dan bertindak rasional, makanya sering terjadi demonstrasi damai namun berakhir anarkis merusak apa saja yang  berada didekatnya, dan menganiaya siapa pun yang menghalangi mereka, sehingga akhirnya terpaksa berhadapan dengan aparat keamanan yang sering pula terjadi jumlahnya tidak memadai dengan massa yang terlanjur bertindak brutal.
Waktu terus berjalan dari hari ke hari, bulan dan ke tahun, bentrok lagi bentrok lagi, rusuh lagi dan rusuh lagi itulah yang sekarang dipertontonkan televisi, sampai tiada hari tanpa berita politik.

Namun sayang aktivitas politik yang elegan/menggunakan hati nurani serta etika berpolitik jarang diberitakan media massa atau dengan perkataan lain tidak ada keseimbangan berita baik dengan buruknya.
Maka peranan pers dewasa ini sangat penting dan strategis, dalam usaha turut menciptakan suasana yang kondusif melalui pemberitaan-pemberitaan yang seimbang antara politik penuh kebringasan dengan politik yang mendidik etika politik yang berkepribadian Indonesia.

Keberpihakan elit politik kepada rakyat wajib dibuktikan dengan program nyata untuk mensejahterakan bangsa, bukan retorika dan janji-janji dalam kampanye saja. Bangsa dan negeri ini tidak bisa dibangun dengan dusta, sehingga perlu diingatkan kepada mereka setiap waktu salah satu bait lagu…. “Tiada dusta diantara kita”. Begitu pula terhadap seluruh penyelenggara Negara termasuk penegak hukum perlu diingatkan hal yang sama agar kebiasaan tidak jujur ditinggalkan sebab kebersamaan hanya akan terbangun dengan kejujuran.

Kesimpulannya para elit politik harus mempunyai program yang terperinci bagaimana Negara ini akan dibangun, jadi bukan catatan mimpi dan janji belaka. Mestinya mereka penuhi komitmen bangsa dalam rangka mencapai cita-cita dan tujuan negara serta sebagaimana visi dan misi yang telah mereka buat  misalnya sewaktu sebelum menjadi elit politik wakil rakyat di DPR/DPRD, MPR; pimpinan lembaga Tinggi Negara dan atau Kepala Daerah.   Jangan melupakan tujuan untuk apa setelah berhasil menjadi pemimpin, berjuanglah membangun bangsa sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945, serta Program Pembangunan Nasional , terlebih lagi  kalau hanya sekedar rumusan visi dan misi tersebut  biasanya singkat dan sifatnya sangat umum jadi belum menyentuh sisi rincian program sampai kepada bentuk kegiatannya.

Jumat, 01 Mei 2009

Otak Cerdas Sekaligus Bermoral


Intelegensia, kecerdasan emosional dan spiritual seharusnya dilengkapi pembelajaran dari pengalaman hidup orang lain yang luas serta ketaatan melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-laranganNya yaitu Tuhan Yang Maha Pencipta. Maka kita banyak berharap agar generasi penerus bangsa dimasa depan mempunyai integritas seperti ini, sehingga kehidupan bermasyarakat dan bernegara untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur yang diridhoi Tuhan Yang Maha Esa dapat tercapai.

Kita prihatin dengan berbagai fenomena buruk seperti pelajar yang bunuh diri gara-gara tidak dibelikan sepeda atau tidak bisa bayar iuran sekolah, perkelahian antar pelajar dan mahasiswa tawuran dimana-mana, maraknya pembunuhan, mabuk, judi serta narkoba, kehidupan sex bebas dikalangan pelajar, kawin cerai para artis yang dimuat secara bebas oleh berbagai media infotainment, dan lain-lain.

Bangsa ini telah puluhan tahun merdeka namun kemajuan bangsa ini belum ada kemajuan yang signifikan, misalnya korupsi cenderung dilakukan ramai-ramai dilakukan baik oleh birokrat, wakil rakyat maupun pelaku dari warga masyarakat, pembentukan departemen/instansi/badan/lembaga/dinas/komisi di tingkat pusat dan daerah terlalu banyak sehingga sangat membebani anggaran Negara (mestinya organisasi itu ramping struktur tetapi kaya fungsi),

Bagi-bagi kue kekuasaan atau penempatan kroni (kolusi dan nepotisme), kesadaran hukum yang rendah, disiplin rendah di lingkungan kerja serta ditengah masyarakat, kebersihan dan kelestarian lingkungan sangat menyedihkan, “gemar upacara ceremonial” hampir dua atau tiga kali dalam seminggu diselenggarakan aparatur pemerintah, dan diperparah lagi diantara para pemimpin bangsa ini bicaranya sering lempar batu sembunyi tangan/ intinya lari dari tanggung jawab atau saling salah menyalahkan, alasan-alasan yang dikemukakan tidak rasional bila mendapat kritikan dari masyarakat, kebiasaan ngobrol ngalor ngidul pada waktu jam kerja dikalangan aparat dan dipelbagai lapisan masyarakat “too much talk, do nothing”.

Untuk mengurangi/meminimalisir kerusakan-kerusakan serta membangun bangsa ini, maka peranan orang tua, guru, pemerintah serta hartawan, pemuka agama dan semua elemen masyarakat lainnya harus segera mereformasi system pemerintahan dan pendidikan. Mengapa? Karena peranan aparatur dan partisipasi seluruh masyarakat kan sangat menentukan keberhasilan dalam penyelenggaraan proses pendidikan untuk membangun sumber daya manusia (human resources development).

Pendidikan dan pembinaan yang dimulai dari lingkungan keluarga sampai dengan lembaga-lembaga pendidikan baik itu yang diselenggarakan swasta maupun pemerintah sampai dengan tingkat perguruan tinggi hendaknya diarahkan kepada pembentukan manusia Indonesia yang berintegritas tinggi sebagaimana telah diutarakan di atas, sehingga nantinya bangsa ini mempunyai kecerdasan intelektual / kemampuan akademis, yaitu berperilaku cerdas rasional, cerdas emosionalnya tidak mengedepankan emosi, dan mempunyai keseimbangan dengan kecerdasan spiritualnya/agamis.

Kesimpulan bahwa untuk mencapai cita-cita/tujuan bangsa seperti diamanatkan dalam UUD 1945, maka sekarang ini mesti segera dimulai pembangunan manusia Indonesia yang cerdas intelektual, emosional dan spiritualnya, sehingga terwujud bangsa yang disiplin, sadar hukum, cinta tanah air, mendahulukan kepentingan Negara daripada kepentingan pribadi atau golongannya dan mampu melaksanakan tugas dan kewajibannya yang terbaik bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat dan negaranya dengan ikhlas berdasarkan landasan spiritual sesuai dengan ajaran agamanya. Semoga!

Mendengar dan Memberi Solusi



Manakala ada saudara atau sahabat yang sedang menyampaikan sesuatu masalah atau bahasa gaulnya curhat (mencurahkan isi hati) maka otomatis disitu telah terjadi transfer pengalaman yang berharga untuk penerima curhat tadi, sebaliknya bagi yang menyampaikan ia akan merasa lebih nyaman, jiwa/fikirannya menjadi lebih tenang tidak resah seperti sebelumnya.

Menurut para akhli, melalui curhat kepada seseorang kawan/sahabat, maka itu akan dapat menurunkan tingkat stress sekian puluh persen, sehingga adrenalin yang memacu jantung dapat diminimalisir, dan jiwanya menjadi lebih tenang.…..Usahakan menjadi pendengar yang baik agar proses menyerap curhat / messages yang disampaikan lengkap tidak sepotong-sepotong, sehingga nanti sarannya pun dapat lebih komprehensif dan menjadi bantuan solusi yang tepat sesuai dengan harapannya.

Berikanlah atensi lebih dalam menerima curhat, agar sahabat kita dapat memaksimalkan curhatnya sehingga penurunan tingkat stressnya pun maksimal. Bahwa dalam diri kita masing-masing selalu ada rasa ingin tahu ada rasa ingin tahu, kita menyadari banyak kekurangan, maka saling isi mengisi/sharing pengalaman sangat berguna untuk peningkatan kedewasaan berfikir dan bertingkah laku/bertindak malah menurut saya akan melengkapi intelegensia, emosional dan spiritual kita.

Mengapa? Karena kita sadar bahwa pengalaman yang kita miliki sangat terbatas, maka ditambah dengan berbagai pengalaman hidup orang lain, itu akan sangat berharga bagi kita dalam memasuki dunia nyata yang penuh cobaan, godaan, tantangan, serta hambatan, apalagi bagi mereka yang baru saja lulus dari pendidikan tinggi, pengalaman tersebut akan memperkaya ilmu formal yang telah diperolehnya.

Generasi muda penerus bangsa kalau ingin cepat diterima serta dapat menyesuaikan diri dalam pergaulan hidup manusia yang baru ditengah-tengah masyarakat atau suatu lingkungan kerja, maka keywordsnya ialah hargailah mereka yang lebih tua dalam umur maupun pengalamannya, seraplah ilmu dan pengalaman hidupnya –contoh pengalaman saya dulu setelah lulus sekolah masuk kerja, kemudian oleh rekan kerja yang senior ditugaskan membuat amplop dari kertas-kertas bekas/tidak terpakai dalam jumlah banyak, apakah dilipat dan dilem satu-satu atau beberapa bahan amplop itu sekaligus?—.

Disitu kita baru menyadari bahwa hal-hal seperti itu belum diajarkan disekolah/perguruan tinggi yang kaya ilmu teoritis tetapi pastinya “belum”/terbatas praktek atau aplikasinya dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, bagaimana agar berbagai ilmu hasil pendidikan formal tersebut supaya menjadi aplikatif? Mereka kaum intelektual artinya orang terpelajar perlu melengkapi ilmu yang telah didapatnya dengan berbagai pengalaman yang akan ditransfer oleh mereka yang telah mengalami asam garam kehidupan lebih dahulu, pengalaman bersifat religius/spiritual agama maupun yang sifatnya lahiriah/keduniawian.

Karena itu, hidup kita perlu saling berbagi, ya berbagi kepada mereka yang membutuhkan barang/harta benda/fisik material ataupun sesuatu yang sifat/wujudnya non fisik, seperti memberikan pendidikan rohani, mental spiritual agama, termasuk menyampaikan saran atau nasehat, dan last but not least:…………setiap ilmu yang bermanfaat termasuk pengalaman sebagaimana yang telah diutarakan di atas.

Dengan demikian, pengalaman itu akan melengkapi pendidikan formal yang telah diperoleh, ditambah cerdas emosional, disertai pengusaan ilmu agama dan taat beribadah, maka dikemudian hari manusia Indonesia itu akan maju disegala bidang bukan kaya duniawiah berbentuk fisik materi, penguasaan teknologi, dan lain-lain namun kita mesti kaya rohaniah/insan-insan yang beriman serta bertaqwa kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Pembangunan bangsa harus diarahkan agar setiap insan mampu menyeimbangkan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual ditengah kehidupan masyarakat dengan baik. Semakin tinggi ilmunya dia semakin merendah diri tidak sombong, dia pandai beradaptasi dengan lingkungannya dimana pun dia berada, mereka mau terus belajar dan bekerja dengan menghasilkan produk kerja terbaiknya untuk masyarakat.

Berbagi Pengalaman 2



Jadi penting dicamkan bagaimana caranya agar setelah berbuat salah kita tidak mengulangi kesalahan yang sama dikemudian hari dengan cara selalu hati-hati\waspada serta menjauhi dari perbuatan yang dapat menimbulkan kesalahan yang serupa. Ada salah satu peribahasa yang menarik dari Belanda, dan kalau diterjemahkan bebas yaitu: “keledai itu tidak akan pernah terperosok ke dalam lubang yang sama “(keledai diibaratkan hewan yang bodoh, tetapi sebodoh-sebodohnya keledai dia tidak akan terperosok ke lubang itu lagi).

Peribahasa itu mengingatkan kita harus lebih pintar jangan terkena ke dalam suatu masalah\kasus yang sama, sebab kalau itu terjadi, maka itu artinya lebih bodoh daripada binatang yang namanya keledai. Demikianlah ini peribahasa yang bagus sebagai peringatan bagi kita bahwa manusia itu mesti lebih smart (pintar) karena telah diberikan akal oleh Tuhan Maha Pencipta, jangan sampai terperosok untuk yang kedua kalinya dalam masalah yang sama.

Namun apa hendak dikata kita masing-masing mungkin pernah mengalami masalah yang sama, hal ini ada beberapa penyebabnya, mungkin seseorang itu sedang sibuk, tidak konsentrasi/tidak fokus fikirannya, kondisi badan/jiwa sedang sakit, adanya iming-iming akan dapat hadiah/keuntungan besar, atau tertarik karena rayuan\promosi yang bagus (kena rayuan gombal), dan lain-lain.

Di bawah ini saya uraikan beberapa kasus lain yang sering berulang-ulang terjadi antara lain: Penipuan kepada nasabah yang dilakukan suatu perusahaan sekuritas yang ternyata tidak terdaftar di BAPEPAM, mereka bekerjasama dengan bank resmi yang bertindak sebagai agennya untuk menjual produk reksadana yang tidak termasuk produk bank. Ketika bank itu dinyatakan collapse (bangkrut) dan pelakunya kabur atau tertangkap dan diadili karena kasus penipuan\penggelapan atau tindak kejahatan bidang perbankan, maka para nasabah yang akan menarik kembali uangnya mengalami kesulitan. Pimpinan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang mengambil alih bank itu tidak bisa bertanggung jawab dengan alasan pelayanan jasa itu bukan produk bank. (Mestinya ada aturan yang tegas saja bahwa bank tidak boleh kerjasama dengan pihak bukan bank menyelenggarakan jasa di luar produk bank) Tetapi anehnya di negeri ini sering terjadi Undang-Undang bisa kalah oleh peraturan/keputusan yang lebih rendah tingkatan hierarki peraturan perundang-undangan )

Kejadian-kejadian/kasus seperti itu kerap terjadi dan telah banyak diekspose di media cetak dan televisi; namun masih banyak orang yang tertipu juga karena keahlian promosi serta bujuk rayu bagian marketingnya. Oleh karena itu, pengalaman sendiri dan pengalaman yang dialami orang lain perlu kita hayati, dianalisa dengan fikiran jernih/ dimenej agar dapat menjadi suatu pelajaran yang berharga sehingga kita mampu terhindar dari masalah-masalah yang berulang-ulang.

Sisi yang Terabaikan


Negara mengendalikan dan mengatur agar pemenuhan kebutuhan hidup pokok tersebut dapat seimbang antara kebutuhan lahiriah dengan rohaniah sehingga tujuan kebahagiaan atau dengan kata lain masyarakat yang adil dan makmur yang diridhoi oleh Tuhan Yang Esa yang ingin dicapai bangsa Indonesia dapat tercapai dengan sebaik-baiknya.

Pemerintah perlu menyikapi dengan political will yang nyata untuk membuktikan akan berusaha memenuhi kebutuhan hidup seluruh rakyat melalui program pembangunan yang direncanakan bersama antara pemerintah dan seluruh komponen bangsa. Mengenai kebersamaan ini sangat strategis peranannya karena kebersamaan sebagaimana diutarakan di atas, merupakan kodrat manusia selalu hidup bersama.

Kalau demikian perencanaan dan pelaksanaan pembangunan seperti apa yang dibutuhkan bangsa Indonesia saat ini? Jawabannya adalah pembangunan yang direncanakan dan diselenggarakan bersama serta berkesinambungan sehingga dapat mewujudkan bangsa yang maju, yaitu bangsa yang cerdas secara intelegensia, emosional dan spiritual yang dilandasi keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Pencipta.

Membangun sarana fisik saja, seperti sarana dan prasarana transportasi, telekomunikasi, perumahan, dan lain-lain tidaklah cukup, jangan diabaikan human building yaitu membangun manusia/bangsa Indonesia itu sendiri, maka pola pembangunan nasional perlu segera dibenahi dan direformasi. Marilah kita perhatikan amanat seperti tercantum dalam salah satu teks syair lagu Indonesia Raya ciptaan W.R.Supratman……..”Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya…” Selama ini pembangunan manusia agak terabaikan baru sering diwacanakan, ceramah, diskusi, seminar, belum diwujudkan action malah banyak lips service saja.

Bicara program pembangunan yang dilaksanakan pemerintah diantaranya ada istilah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau dalam bahasa asingnya dikenal human development index, biasanya tiap akhir tahun dievaluasi serta diperlombakan DEPDAGRI antar Daerah Kabupaten dan Kota.

Itu sah-sah saja, namun hendaknya bukan sebatas talks only melainkan yang lebih diperlukan adalah aplikasi program pembangunan bukan sekedar lomba atau angka-angka yang sebenarnya sering tingkat akurasinya diragukan, ya bagaimana akurat? Data Biro Pusat Statistik (BPS), dengan PEMDA saja tidak pernah sama angka /datanya padahal sumber data sama dari kelurahan dan kecamatan.

Mengapa itu bisa terjadi? Karena tidak ada kebersamaan dan persepsi yang sinkron diantara berbagai departemen/badan/lembaga/dinas terkait, saya ambil contoh dalam menetapkan kriteria penduduk/ keluarga miskin saja, diskusinya tidak kunjung selesai, kapan kerjanya dong? Kalau bangsa ini tidak mau terus tertinggal kemajuannya oleh negara lain, maka mestinya jangan ragu menetapkan anggaran pendidikan yang memadai, agar sarana dan prasarana serta berbagai fasilitas pendidikan agama dan umum dalam arti luas dapat menghasilkan manusia Indonesia yang cerdas, ahli dan terampil di bidangnya masing-masing dan pengertian cerdas tersebut harus selengkapnya yaitu kecerdasan intelegensia, emosional dan spiritual.

Manusia Ditakdirkan Untuk Hidup Bersama


Hidup akan menjadi indah manakala kita selalu berbagi satu sama lain, berbagi itu sangat bagus karena merupakan suatu kemujaraban dalam mengatasi berbagai kebutuhan hidup manusia yang bersifat materi/jasmaniah/lahiriah seperti rumah untuk tempat berlindung, sandang dan pangan maupun kebutuhan yang sifatnya non material /rokhaniah/spiritual seperti pembinaan bidang keagamaan serta pendidikan dalam arti luas.

Dalam kehidupan manusia itu selalu ada keluarga, masyarakat dan negara, karena itu pula hidup bersama selalu terdapat organisasi yang artinya adanya pembagian tugas dan petugas, kemudian petugas satu sama lainnya itu bekerjasama gait-menggait untuk mencapai suatu tujuan yaitu kebahagiaan. Mengapa demikian? Karena pada kodratnya manusia itu tidak bisa hidup sendiri, mereka senantiasa memerlukan pertolongan orang lain /tolong menolong satu sama lain, bergotong royong, bekerja sama untuk mencapai tujuan hidupnya tadi. Kalau ada orang yang hidup sendirian di hutan itu hanya dalam dongeng, misalnya cerita anak-anak mengenai Robinson Crusoe. Tentu saja manusia dalam menjalani kehidupan itu banyak sekali memerlukan kebutuhan yang kalau diambil garis besarnya adalah kebutuhan fisik/jasmaniah/material dan non fisik/non material material/rokhaniah

Saya teringat pendapat dosen saya Prof.Soediman Kartohadiprojo, SH, (alm 1969) beliau mengatakan: “Manusia itu ditakdirkan untuk selalu hidup bersama”, pendapat ini lebih tepat dan lugas dibandingkan pendapat para akhli barat zaman dulu yang cukup mengatakan bahwa “man is a social and a political being” (manusia itu selalu hidup bersama/tidak dapat hidup sendirian dan selalu berorganisasi).